Muhammad Yamin, Lambang Indonesia, dan Strategi Revolusi


Oleh : Muhtar Said[2]

sumber foto; www.bin.go.id
Indonesia mempunyai tiga lambang kedaulatan yang bisa dijadikan perekat dan juga bisa dijadikan alat untuk berjaga-jaga diri dari gempuran negara lain. Maksudnya, lambang bisa dijadikan alat pemersatu dan bisa memberikan semangat bagi masyarakat Indonesia untuk terjun dan melakukan tindakan apabila ada negara lain yang mengusik lambang Indonesia.

Ketiga lambang kedaulatan tersebut menurut Muhammad Yamin adalah lagu kebangsaan Indonesia Raya, Garuda Elang Rajawali dan Bendera Merah Putih,[3] ketiga lambang tersebut adalah alat sakti untuk menuju kokohnya Republik Indonesia.

Apabila Orang yang melantunkan dan mendengar lagu kebangsaan Indonesia raya dengan penuh hikmat serta menjiwai bait-bait lagu tersebut, maka akan ada rasa getar dalam dadanya, sehingga bisa menumbuhkan rasa cinta pada negara.

Pertama,  Indonesia Raya adalah tri mutiara yang menyinarkan cahaya di lautan perjuangan Indonesia.[4] Indahnya bait-bait lagu Indonesia Raya tidak membuat pendengar tenggelam dalam lautan mimpi, karena indahnya lagu itu, tetapi malah menumbuhkan sifat pejuang bagi para pendengar, karena ada pesan revolusi dalam bait-bati lagu Indonesia raya.  Indonesia Raya adalah perwujudan rasa persatuan dan kehendak untuk merdeka.

Kedua, Elang Garuda Rajawali, merupakan lukisan perjuangan rakyat Indonesia. Elang Rajawali merupakan lukisan pergerakan masyarakat Indonesia dalam membangun bangsa. Yamin menjelaskan tentang Elang Rajawali kepunyaan Indonesia sedang terbang keangkasa dan memandang ke dunia Austronesia[5] yang sedang berjuang dan membangun dengan tenaga raksasa yang hampir tak terbatas.[6]   

Gagahnya burung garuda, seolah-olah memberikan pesan kepada dunia luar, bahwa Indonesia adalah negara gagah berani, mempunyai tenaga yang kuat, karena persatuan masyarakatnya mampu membumbungkan api semangat perjuangan. Jangan pernah remehkan kemampuan rakyat Indonesia, rakyat yang sudah terbukti, karena sudah tergodok dalam kawah penindasan kolonialisme, namun mereka tetap bertahan dan berjuang demi kebebasan. Begitulah pesan lukisan Garuda Rajawali kepada dunia.

Lukisan Elang Garuda yang mengepakkan sayapnya dan terbang mengelilingi bumi Austronesia, menjadi simbol semangat gerakan masyarakat Indonesia dalam memperjuangakan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, serta siap menuju kejayaan.

Ketiga, warna bendera merah putih. Warna merah putih bukanlah sembarang warna. Warna merah putih dipakai karena atas pertimbangan sejarah Indonesia, yang penuh dengan sejarah perlawanan melawan kolonialisme. Di Jawa Tengah, Pangeran Diponegoro membawa panji-panji merah-putih gula- kelapa ketika melakukan perlawanan terhadap kolonialisme Belanda.

Di Kediri, Majapahit, dan Sriwijawa juga menjadikan sang merah putih sebagai kebanggaan, dan juga sebagai lambang kejayaan.[7]  Ketiga lambang tersebut merupakan lambang persatuan, lambang perjuangan, dan lambang kejayaan Indonesia.

Strategi Revolusi

Setelah masyarakat mengetahui dan meresapi tiga makna lambang kedaulatan milik Indonesia, barulah mereka memiliki jiwa nasionalisme yang kuat. Sehingga perjuangan menuju kemerdekaan dilakukan dengan hati. Persatuan, adalah modal untuk melakukukan revolusi.  Revolusi merupakan gerakan hijrah masyarakat Indonesia menuju kejayaan.

Persatuan, yang juga menjadi amat Sumpah Pemuda pada tahun 1928, sehingga amanah tersebut juga harus diterapkan dalam sistem Ketatanegaraan Indonesia. Oleh karena itu sistem fideralisme bukanlah sistem yang ideal bagi Indonesia, sistem yang cocok dengan Indonesia adalah unitarisme,[8] sistem yang di dapat pada persatuan bangsa, daerah dan kebudayaan.[9] Dengan adanya persatuan maka secara otomatis akan menghapuskan sistem feodalisme yang telah mengakar dalam masyarakat Indonesia.

Menghapus sistem feodalisme merupakan salah satu cara untuk menciptakan persatuan di Indonesia. oleh karena ini, Yamin menyebut misi tersebut dengan nama revolusi sosial. Revolusi sosial merupakan satu dari dua bagian dari revolusi nasional. Yamin memberikan syarat, untuk mencapai revolusi nasional, maka harus terlebih dahulu melakukan revolusi politik dan revolusi sosial.[10]

Revolusi sosial dan politik saling berkaitan. Keduanya tidak bisa berdiri sendiri-sendiri. Revolusi politik akan diikuti oleh revolusi sosial. Revolusi politik mengharuskan Republik Indonesia akan memunculkan pemeritahan pusat, daerah dan bawahan. Jika revolusi politik berhasil diterapkan maka revolusi sosial akan mengikuti, karena daerah istimewa seperti Surakarta akan dihapuskan, karena akan menghambat revolusi politik dengan demikian rakyat Murba bisa meraih kekuasaan, karena tidak ada hambatan dalam menguasai kursi-kursi kekuasaan, sehingga gerakan perubahan akan berubah dari bawah.

Yamin, memberikan gambaran mengenai revolusi politik bisa berdampak sampai ke dunia internasional. Artinya, produksi wacana terkait dengan perubahan masyarakat Indonesia itu digulirkan dalam negeri yang kemudian bisa memberikan dampak kepada negara-negara luar negeri, sehingga Indonesia tidak jadi negara peniru dan tidak menjadi robot negara-negara yang sudah mapan.

Ide Revolusi Politik yang dilontarkan oleh Yamin merupakan penerapan ide dari Partai Murba yang dilahirkan oleh Tan Malaka, yang menginginkan adanya kemerdekaan 100%. “semangat organisasi dari Murba, oleh Murba, dan untuk Murba”.[11]

Revolusi politik yang kemudian diikuti oleh revolusi sosial, mempunyai tujuan untuk meberikan ruang kaum Murba berkuasa. Karena dengan adanya revolusi sosial berarti meniadakan feodalisme dari Republik Indonesia, dan disinilah Murba bisa masuk kemana-mana. masuknya Murba ke wilayah-wilayah pembuat kebijakan, tentu akan melahirkan kebijakan-kebijakan yang berasal dari ide Murba, bukan ide asing, dan ditujukan untuk Murba pula, bukan untuk kepentingan asing.

Setelah revolusi sosial berhasil maka akan memunculkan puncak gerakan yakni, Revolusi Nasional. Revolusi nasional bukanlah revolusi yang hanya perputaran kekuasaan (karena sudah terhapusnya sistem feodal), melainkan revolusi yang tetap. Gerakan revolusi nasional akan membangkitkan gairah masyarakat luar negeri mendukung Indonesia merdeka.

Sudah selayaknya revolusi nasional menjadi acuan negara Republik Indonesia. sesuai dengan hukum revolusi. Revolusi melahirkan Negara, negara menjalankan revolusi, dan rakyat berlindung dibawah negara.[12] Dan amanat revolusi adalah merdeka 100%. 












[1] Dipresentasikan pada Sekolah Yamin, pada tanggal 23 April 2015 di Markas Pustokum
[2] Peneliti Pusat Studi Tokoh Pemikir Hukum (Pustokum)
[3] Muhammad Yamin, Pembinaan Bangsa Indonesia, diucapkan pada Kongres Pemuda di Kota Bandung, 1960, hlm 8
[4] Muhammad Yamin, Sumpah Indonesia Raja, hlm 20, didalam buku ini juga diterangkan, indahnya lirik lagu Indonesia raya membuat Multatuli menyebutnya sebagai “bahasa Italia ditanah Timur”.
[5] Austronesia merupakan penamaan yang semata-mata didasarkan atas penggolongan kebahasaan yang diperoleh melalui perbandingan bahasa-bahasa yang hingga kini masih digunakan oleh penduduk yang hidup di dalam sebuah wilayah yang amat luas, dari Madagaskar ke daerah Pasifik bagian utara dan selatan termasuk Wilayah Indonesia. baca Dedi Supriadi Adhuri, dalam Austronesian Diaspora and The Ethogeneses of People in Indonesia Archipelago, Lipi Press, Jakarta, 2006 hlm 392
[6] Ibid hlm 8
[7] Muhammad Yamin, Sumpah Indonesia Raja, hlm 24-25
[8] Model unitarisme, kemudian berkembang menjadi beberapa bentuk, yakni bentuk negara Kesatuan dengan sistem sentralilasi, desentralisasi dan dekonsentralisasi.
[9] Muhammad Yamin, Proklamasi dan Konstitusi, Djambatan, Jakarta, 1952 hlm 32
[10] Logcit hlm 5
[11] Tan Malaka, Sambutan Murba, 1948. Sambutan Murba ini semacam sikap Partai Murba terhadap Perjanjian renville karena diarasa merugikan wilayah Indonesia
[12] Ibid Proklamasi dan Konstitusi, hlm 23
Reaksi: 

Related

Hukum 1179254430242231740

Posting Komentar

emo-but-icon

WELCOME

NEWS

Kurikulum Sekolah Muhammad Yamin

Arsip

Kuliah Progresif

Alamat

item