Mulyana W. Kusumah : Selamat dari Kejaran Orde Baru


Oleh:
Muhtar Said (Peneliti Pustokum)


sumber foto : tokoh kita


Mulyana Wirakusumah, biasa dipanggil dengan nama Mulyana. Seorang aktivis yang melahirkan banyak karya dan kader dalam bidang kepemiluan, aktivis kemanusiaan dan juga kriminolog. Rabut panjang ikal dengan tubuh dilapisi dengan jaket kulit santai menjadi cirikhas yang tidak terlupakan pada diri Mulyana. Rambutnya sudah tergerai pajang sejak Mulyana mahasiswa.[1]

Mulyana memang sudah “didesain” untuk menjadi seorang aktivis, ia lahir dari rahim aktivis. Sikapnya yang berani dalam menegakan prinsip membuatnya disegani banyak kalangan. Prinsip demokrasi ia tegakan tanpa pandang buku, bahkan kepada seniornya sekalipun. Adnan Buyung Nasution pernah merasakan sentilan Mulyana saat di Yayasan Lembaga Bantuan Hukum (YLBHI),  saat pemilihan ketua YLBHI tahun 1993. Pada tahun itu Tahun itu Mulyana merupakan kandidat kuat untuk menduduki Ketua Dewan Pengurus, Mulyana mendapat dukungan dari LBH di berbagai daerah, secara sah Mulayana menjadi ketuanya, namun, Buyung datang dari Belanda dengan gelar doktornya menjadi penghambat, kemanangan Mulyana dibatalkan karena dewan penyantun memilih Buyung menduduki tahta tersebut.[2]

Sejak masih mahasiswa, Mulyana sudah sering menulis di media, Kompas menjadi sasaran empuk tulisannya. Dalam waktu satu hari, Mulyana bisa mengetik tulisan 2-3 artikel,[3] semua itu dilakukan oleh Mulyana karena dirinya membutuhkan honor dari artikel yang dimuat untuk kehidupannya sebagai mahasiswa dan seorang aktivis.

Pada tahun 1978, Mulyana masih mahasiswa, dia menulis di kompas dengan judul “Kriminologi sebagai Kritisisme Sosial”. sebuah tulisan yang bernuansa neo marxsime. Tulisan ini merupakan tulisan yang berani karena zaman itu suasana politik tidak mendukung untuk hal-hal yang berbau marxisme, namun Mulyana tetap teguh untuk terus menyuarakan apa yang ada dalam hatinya melalui tulisan.

Pada tahun 1990an Mulyana oleh orde baru pernah dicap sebagai anggota Partai Komunis Indonesia (PKI). Mulyana terus dicari-cari oleh tentara, rumahnya dikepung, Mulayana tidak tertangkap karena dirinya sembunyi di dalam sumur.[4] Hanya untuk kebebasan orang lain dirinya rela untuk hidup tidak tenang, kemerdekaan memang membutuhkan pengorbanan.     

Mulyana bukan hanya sebagai seorang aktivis kemanusiaan saja, tetapi Mulyana juga dikenal sebagai aktivis tentang kepemiluan. Dia mendirikan Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP) pada tahun 1996, zaman di mana pembungkaman negara terhadap para aktivis masih menjadi hal yang biasa, tetapi, Mulyana tidak gentar untuk terus menyuarakan demokrasi, meskipun sudah banyak peristiwa yang mengancam hidupnya namun Mulyana tetap istiqomah dijalur yang dikehendaki oleh hati.

KIPP ini dibentuk untuk menjadi pemantau pemilu di tahun 1997, hal itu dilakukan supaya pelaksanaan pemilu bisa menjadi lebih bebas dan adil. Sebagai lembaga swadaya masyarakat KIPP ingin melakukan pematauan pada pemilu karena kontrol pemerintah pada penyelenggara pemilu pada waktu itu sangat dominan.

KIPP berdiri dengan tidak mudah karena banyak serangan yang hadir, terutama oleh orang-orang yang berasal dari pemerintahan karena memang suasana sosial politik pada waktu itu belum menginginkan adanya demokrasi berkembang di republik Indonesia. Mafia-mafia pemilu masih terus menginginkan Soeharto tetap bersemi menjadi penguasa abadi Indonesia.

Teror terus mengintai Mulyana, namun dirinya tetap teguh pada pendirianya sebagai aktor yang terus mengampanyekan demokrasi sepenuhnya. Dan akhirnya perjuangan Mulayana dan teman-temannya tercapai ketika Soeharto digulingkan dengan aksi massa, demokrasi Indonesia-pun menapaki jalan baru.

Partai politik-pun banyak bertumbuhan di era pasca reformasi untuk mengikuti pemilu. 48 partai politik ikut dalam pemilu pada tahun 1999. Meskipun partai politik sebanyak itu, oleh Mulyana hanya dikelompokkan menjadi 5 golongan  saja, yakni partai berbasis ideologi agama, nasional demokrat, sosial demokrat, “kekaryaan” dan kelompok kepentingan.[5]


            Banyak hal mengenai jejak pemikiran Mulyana, baik saat sebagai seorang kriminolog, aktivis kemanusian maupun seorang yang aktif dalam wacana dan pelaksanaan demokrasi di Indonesia. Penelitian biografi pemikiran ini sangat penting untuk mencari rekam jejak pemikiran dan tindakan Mulyana



[1] Diah Kunthi Kusuma Wardhani Dkk, Dari Salemba UI ke Rutan Salemba, Profil Sederhana Mulyana W. Kusama, tanpa tahun hlm 2
[2] Forum Keadilan Nomor 24 Tahun IV 11 Maret 1996 hlm 23
[3] Ibid hlm 3
[4] “Kenangan Adnan Buyung tentang Mulyana W. Kusuma” Tempo.Co Senin 02 Desember  2013
[5] Mulyana W. Kusuma “ Intitusionalisme Demokrasi & Urgensi Perubahan Undang-Undang Partai Politik” dalam Buku menata Politik Pasca Reformasi, KIPP, Jakarta 2000 hlm 28
Reaksi: 

Related

Artikel 8546413001511367923

Posting Komentar

emo-but-icon

WELCOME

NEWS

Kurikulum Sekolah Muhammad Yamin

Arsip

Kuliah Progresif

Alamat

item